5 Mitos Mengenai Kecerdasan Anak yang Ternyata Tidak Benar

Ada banyak informasi yang yang berkaitan dengan kecerdasan anak yang selama ini dipercaya orang ternyata hanya mitos belaka. Setelah dilakukan studi lebih lanjut terbukti bahwa informasi tersebut tidak berdasarkan fakta yang sesungguhnya. Beberapa orang bahkan sengaja menyebarluaskan mitos-mitos tersebut untuk kepentingan komersial.

Berikut ini 5 hal populer yang berkaitan dengan kecerdasan yang ternyata hanya mitos

1. Mendengarkan musik Mozart akan membuat bayi lebih pintar
Mitos ini bermula dari penelitian yang dilakukan di Universitas California pada tahun 1993 dimana para peneliti menemukan bahwa setelah mendengarkan musik dari Mozart sonata selama 10 menit, maka tes IQ siswa yang diteliti akan meningkat 8 sampai 9 poin. Penemuan ini kemudian dikenal sebagai “Mozart effect” yang membuat penjualan CD musik Mozart melonjak tajam di seluruh dunia.

Penelitian ini akhirnya terbantahkan setelah para peneliti lain, diantaranya professor Kenneth Steele dari Appalachian State University di Amerika Serikat, melakukan penelitian dengan metoda yang sama. Pada penelitian ulang ini mereka menggunakan lebih banyak siswa yang dijadikan sampel.Berdasarkan penelitian ulang itu, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara mendengarkan musik Mozart dengan bertambahnya kecerdasan siswa.

 

2. Video pendidikan bayi akan membuat bayi lebih cerdas
Ada banyak video “pendidikan” untuk bayi seperti “Baby Einstein” dan “Brainy Baby” yang diedarkan ke seluruh dunia. Video ini menghasilkan sukses komersial yang besar bagi pembuatnya, tetapi hasilnya nihil bagi kecerdasan bayi.

Banyak penelitian yang dilakukan kemudian menyimpulkan bahwa video tersebut tidak berguna, bahkan bisa merugikan. Dr. Vic Strasburger dari University of New Mexico, Amerika Serikat mengatakan “Mereka (para bayi) tidak mendapatkan interaksi dari menonto TV atau video. Pada kenyataannya menonton TV dapat mengganggu proses terhubungnya syaraf pada tahap awal perkembangan bayi”.

Peneliti lain, Dr. Christakis dari University of Washington menyimpulkan “Makin banyak video yang mereka tonton, semakin sedikit kosa kata yang mereka miliki. Dalam keterampilan berbahawa, mereka mendapatkan skor 10% lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang tidak pernah menonton video tersebut”. Dampak buruk dari video ini diketahui paling banyak berpengaruh terhadap bayi yang berusia antara 8 sampai 16 bulan.

 

3. Kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan
Banyak orang meyakini bahwa kecerdasan seseorang sangat dipengaruhi oleh kecerdasan kedua orang tuanya, artinya kecerdasan seseorang telah ditentukan secara genetik. Pada kenyataannya, faktor keturunan tersebut hanyalah mempengaruhi potensi intelektual si anak, yang pada akhirnya mungkin dapat dicapai atau mungkin tidak.

Richard Nesbitt, seorang pakar psikologi dari University of Michigan mengungkapkan bahwa kecerdasan manusia itu sangat fleksibel. Artinya kecerdasan seseorang akan selalu dapat ditingkatkan apabila lingkungannya mendukung dia untuk meningkatkan kecerdasannya.

Dukungan orang tua, sekolah, dan lingkungan akan lebih berperan dalam kecerdasan seseorang dibandingkan dengan gen warisan dari kedua orang tua.

4. Kalau anak sering dipuji bahwa dia pintar maka dia akan terus menjadi pintar
Sekilas pernyataan ini masuk akal, karena dengan sering dibilang pintar, maka seorang anak akan memiliki keyakinan diri bahwa dirinya memang pintar. Tapi pada kenyataannya, pujian bahwa dia pintar justu akan merugikannya.

Pada saat dia dipuji bahwa dirinya pintar, maka dia akan beranggapan bahwa dia bisa mendapat nilai bagus karena dia memang pintar, bukan karena usaha kerasnya untuk belajar. Pada akhirnya mugkin dia akan lengah untuk tetap belajar dengan keras karena merasa bahwa dirinya sudah pintar.

Karena itu, orang tua hendaklah memberi pujian kepada anak tersebut bukan karena dia pintar, tapi karena dia telah berusaha dengan keras sehingga mendapatkan nilai yang bagus. Dengand demikian dia akan menyadari bahwa tanpa usaha yang keras, dia tidak akan dapat meraih kesuksesan.

 

5. Orang tua harus lebih pintar dari anaknya agar dapat mengajar mereka
Banyak orang beranggapan bahwa untuk mengajari anak akan suatu pelajaran, maka orang tua atau guru harus lebih pintar. Hal ini sebenarnya disebabkan oleh paradigma lama dimana pendidikan adalah proses pengajaran dari yang lebih tahu kepada yang tidak tahu.

Pada kenyataannya, orang tua atau guru tidak harus lebih pintar dari muridnya. Model pendidikan saat ini adalah menganjurkan siswa untuk secara aktif mencari informasi. Peranan guru dan orang tua adalah sebagai fasilitator. Orang tua tidak harus lebih pintar dari anaknya, tapi mereka harus menyediakan dukungan yang sepenuhnya agar anak dapat belajar secara mandiri dan mendapatkan bantuan ketika mengalami kesulitan.
 

Ayo sebarkan artikel ini!

Pendapat anda

komentar

Submit a Comment