Kiat Memotivasi Anak tanpa Ancaman dan Sogokan

Kita sebagai orang tua sering kali merasa tidak berdaya pada saat anak kita malas untuk belajar atau mengerjakan PR. Pada dasarnya, ada dua hal yang biasa dilakukan oleh orang tua apabila menghadapi situasi semacam ini. Pertama, dengan sogokan. Anda berjanji untuk membelikannya kue atau mainan yang dia inginkan kalau dia mau belajar. Apabila itu tidak berhasil, maka ditempuhlah cara yang kedua, yaitu dengan ancaman. Misalnya anda mengancam sang anak untuk tidak boleh menonton TV atau main bersama temannya apabila belum mengerjakan PRnya.

Lalu adakah cara lain yang dapat dilakukan untuk membuat anak dengan sadar mau belajar tanpa disertai sogokan maupun ancaman ?

Anda dapat menghindari situasi yang tidak menyenangkan ini dengan berusaha untuk meningkatkan motivasi intrinsik anak Anda.

Apa yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ?

Motivasi intrinsik berasal dari dalam, yaitu ketika kita melakukan sesuatu karena kita ingin. Kebalikannya adalah motivasi ekstrinsik, yang didorong oleh faktor eksternal, seperti permen dan waktu tambahan menonton TV. Misalnya, seseorang yang termotivasi ekstrinsik pergi bekerja hanya untuk gaji. Seorang karyawan termotivasi secara intrinsik pergi bekerja karena ia benar-benar menikmati pekerjaannya dan memiliki kesempatan yang lebih baik melakukan dengan baik.

Studi menunjukkan hubungan yang kuat antara motivasi intrinsik dan sukses di bidang akademik dan karir. Para pakar pendidikan dan ahli psikologi juga setuju bahwa anda dapat mengambil langkah-langkah konkrit untuk meningkatkan motivasi intrinsik anak Anda.

Rahasianya datang dalam tiga bagian: kompetensi, otonomi dan keterkaitan. Ini adalah komponen dari teori yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, dua psikolog terkenal dan pendiri teori penentuan nasib sendiri. Lakukan tiga hal ini, dan anda akan melihat keajaiban dari waktu ke waktu.

Mari kita mulai dengan kompetensi. Untuk mendorong anak anda untuk melakukan pekerjaan rumah sendiri, membuatnya merasa seperti dia bisa melakukannya. Katakan padanya dia bisa mengalikan bilangan pecahan dan membuat dia untuk mengatakan dengan lantang bahwa dia bisa melakukannya.

Ernest Dempsey, yang telah menjadi konselor sekolah selama 10 tahun di Tennessee, mendorong orang tua untuk bermain dengan anak-anak mereka yang disebut “Membuat Siswa Jadi Guru.” Dia mengatakan orang tua harus, “duduk dan meminta anak untuk menunjukkan kepada mereka apa yang mereka pelajari di sekolah hari itu”.

Jika Anda mendorong anak anda untuk mengajarkan materi anda dari sekolah, anda akan membuktikan bahwa ia adalah pelajar yang mampu. Jika sang anak menghadapi pelajaran yang sulit, sorotilah hal-hal yang anak anda telah melakukannya dengan baik. Bertepuk tangan ketika ia tidak menyerah atau ketika dia mengerjakan lebih baik dari waktu sebelumnya.

Bila anda ingin atau perlu anak anda untuk melakukan sesuatu yang dia tidak ingin melakukannya, naluri anda mungkin untuk memperketat cengkeramannya pada dirinya. Cobalah untuk melakukan yang sebaliknya. Anak Anda lebih mungkin untuk melakukan pekerjaan rumahnya sendiri jika ia merasa seperti ia memiliki beberapa kontrol. Itulah otonomi.

Lalu apakah anak harus dibiarkan melakukan hanya yang dia inginkan?

Tidak, anda tidak harus membiarkan dia berjalan benar-benar liar dan bebas. Tapi anda bisa memberinya beberapa pilihan yang memberinya ilusi bahwa dia memegang kendali. Misalnya, biarkan dia memilih urutan bagaimana ia mempelajari dan melakukan pekerjaan rumah. Jika dia ingin melakukan matematika pertama, biarkan dia. Biarkan dia memilih apakah ia ingin camilan sebelum atau setelah pekerjaan rumah.

Jika ia merasa seperti ia memiliki sedikit kekuasaan, dia lebih cenderung ingin berpartisipasi.

Buatlah anak merasa bahwa sekolah merupakan hal yang sangat penting buat dia. Anak anda perlu mengetahui dan memahami bahwa sekolah, dan khususnya pekerjaan rumah, adalah penting. Teknik “Membuat Siswa jadi Guru” dari Dempsey dapat menambahkan relevansi untuk pengalaman akademis anak anda. “Dengan mencurahkan tenaga dan waktu untuk mempelajari apa yang dipelajari anak, hal itu menunjukkan kepada anak bahwa orang tuanya peduli dan bahwa apa yang anak lakukan adalah penting,” katanya.

Hubungkan kegiatan akademik si anak dengan hidupnya. Ketika dia belajar pecahan, hubungkan kedalam pengukuran untuk resep favoritnya. Jika dia mengalami kesulitan dalam membaca atau matematika, ingatkan dia bahwa dia memerlukan keterampilan membaca dan matematika untuk menjadi seorang pengacara, astronot, dokter, pekerja konstruksi atau apa pun yang menjadi cita-citanya. Seringlah memberikan pengingat bahwa sekolah saat ini sangat penting untuk masa depan.

Jadi tidaklah cukup apabila anda bertanya: “Apakah kamu sudah mengerjakan PR?” Anda harus memiliki minat yang serius dalam proses pekerjaan rumah dan memastikan bahwa anak anda merasa kompeten, memiliki otonomi, dan tahu relevansi materi.

 

Ayo sebarkan artikel ini!

 

Pendapat anda

komentar

Submit a Comment