Mengenal Cara Pikir Anak Prasekolah

batitaAnak  usia Batita atau usia prasekolah seringkali memiliki pemikiran yang menurut orang dewasa dianggap nyeleneh. Tapi menurut para ahli, hal itu merupakan sesuatu yang wajar sebagai bagian dari proses perkembangan pemikiran si anak. Sangat penting bagi orang tua untuk dapat mengerti apa yang mampu dipahami oleh anak usia prasekolah sehingga orang tua tidak mengharapkan sesuatu yang melebihi kewajaran dari anak usia tersebut.

Menurut Jean Piaget, psikolog yang dikenal sebagai bapak ilmu perkembangan kognitif, anak prasekolah umumnya memiliki ciri umum sebagai berikut:

  • Anak Batita mampu mengucapkan kalimat yang cukup kompleks, tapi cara berpikirnya tidak selalu logis apabila dinilai oleh orang dewasa. Sebagai contoh, dia bisa berpikir bahwa kalau apel berwarna merah, maka buah yang berwarna hijau pasti bukanlah apel.
  • Apabila anak Batita telah membuat suatu kesimpulan atas sesuatu, maka akan sangat sulit bagi kita untuk mengubah kesimpulah tersebut. Hal ini dikarenakan anak Batita belum mampu untuk berpikir dengan logika terbalik. Mereka belum memahami sepenuhnya tentang konsep sebab-akibat.
  • Anak Batita biasa bersikap egois. Dia beranggapan bahwa semua orang berpikir untuk kepentingan dia.
  • Anak Batita sering kali menaruh banyak perhatian pada satu hal dan mengabaikan hal yang lain. Contohnya apabila seorang anak pergi ke suatu pesta ulang tahun, dia mungkin dapat mengingat detail dari kue ulang tahunnya, tapi tidak tentang acara ulang tahunnya sendiri.
  • Anak Batita menganggap benda mati bisa hidup. Sangat wajar apabila mereka beranggapan bahwa boneka memiliki perasaan seperti halnya mereka sendiri.

Lalu hal apa saja yang mampu dipelajari oleh anak Batita?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Benjamin Bloom, seorang psikolog dari tahun 50-an, perkembangan pemikiran seorang anak memiliki tingkatan-tingkatan tertentu seperti halnya anak tangga.

Tingkat 1: Pengetahuan. Yaitu ketika seorang anak sudah diajarkan sesuatu hal dan dia hanya perlu mengingatnya. Tingkat inilah yang digunakan untuk menceritakan kembali suatu cerita.

Tingkat 2: Pemahaman. Seorang anak sudah dapat memahami tentang suatu konsep. Dia dapat memahami tentang maksud dari suatu cerita.

Tingkat 3: Penerapan. Pada tahap ini seorang anak dapat menemukan suatu contoh dari suatu konsep. Dia dapat mengambil pelajaran dari suatu cerita dan menerapkannya.

Tingkat 4: Analisa. Pada tahap ini seorang anak telah mampu memecah suatu cerita kedalam beberapa bagian dan memahami setiap bagian itu.

Tingkat 5: Sintesa. Pada tahap ini seorang anak dapat menerapkan konsep yang pernah dia pelajari pada situasi yang pertama kali dia hadapi.

Tingkat 6: Evaluasi. Seorang anak yang berada pada tahap ini mampu menilai tentang apa yang telah diajarkan kepadanya, baik dari sisi baik maupun sisi buruknya.

Kebanyakan anak prasekolah sudah mampu untuk berada pada tingkat pengetahuan, pemahaman, dan penerapan. Tapi umumnya mereka belum mampu untuk sampai pada tingkat analisa dan tingkatan berikutnya.

Pada saat kita mengajari sesuatu kepada seorang anak Batita, pahamilah pada tingkat berapa pemikirannya berada. Jangan sampai kita berharap bahwa dia sudah akan mengerti semua hal yang kita ucapkan dan menerapkannya. Ajarkanlah bagaimana memahami sesuatu dari mulai mengetahui, memahami, menerapkan, dan menganalisa.

Ayo sebarkan artikel ini!

 

Pendapat anda

komentar

Submit a Comment